Menapak Menara Pandang

Pagi ini udara begitu cerah. Sekitar pukul 08.00 WITA kami dijemput Pak Priyo menuju Menara Pandang. Sebuah landmark Banjarmasin yang nantinya menjadi salah satu ruang kerja kami. Menara Pandang ibarat alun-alunnya warga banua. Perjalanan dari mess tempat kami menginap yang terletak di Kayutangi II menuju Menara Pandang relatif singkat. Hanya butuh waktu sekitar 30 menit saja.

Menara Pandang terletak di kawasan yang cukup strategis. Selain berada di pinggir Sungai Martapura, menara kembar ini diapit beberapa destinasi wisata menarik seperti Kampung Sasirangan, Rumah Ano, Taman Siring hingga Patung Bekantan Raksasa. Ikon bekantan raksasa di sini dibuat menyerupai Merlion, yang mengeluarkan semburan air dari bagian mulutnya. Sayangnya, karena semburan air dibuat mengarah ke Sungai Martapura, maka bagian trotoar di depan patung ikut tersembur air, sehingga tak bisa dilintasi.

Lantai pertama Menara Pandang merupakan ruang semi outdoor yang kerap digunakan sebagai tempat kongkow anak muda Banjar. Di hari kerja, tidak banyak aktivitas berarti yang terjadi di sekitar landmark Banjar berlantai empat ini. Berbeda halnya jika akhir pekan tiba, tatkala digelar Pasar Terapung Siring dan Banjarmasin Food Festival. Lantai dasar menara kembar akan berubah menjadi lautan manusia yang berebut panorama Martapura atau sekedar bersantai bersama kerabat tercinta.

Menginjak lantai dua, ada ruang kerja seluas sekitar 10×5 meter yang tidak lain merupakan ruang kerja kami. Selain cukup representatif, ruang kerja ini menawarkan indahnya panorama Sungai Martapura. Sedangkan di lantai tiga Anda dapat menemukan ruang pameran produk Usaha Kecil Menengah (UKM). Selebihnya, ruangan di sini terkunci rapat, mulai dari toilet, lantai empat hingga di puncak menara. Sayang sekali.

Beruntung, saat kami melakukan pertemuan dengan jajaran Pemerintah Kota Banjarmasin diberi kesempatan menaiki puncak Menara Pandang yang biasanya selalu dikunci dengan berbagai alasan. Awalnya kami cukup girang saat diperbolehkan menaiki puncak menara. Sayangnya sebelum sampai di puncak, rasa penasaran kami perlahan menghilang ditelan panasnya suhu udara. Entah karena stamina yang sudah lelah, cuaca yang sebegitu gerah atau desain ruang yang tidak tepat membuat kami merasa begitu lelah dan susah bergerak untuk mencapai menara.

Berada dalam ruang kaca membuat suhu udara sangat panas. Sekilas mengamati, bagian dalam di puncak menara ini mungkin tidak dikondisikan menjadi tempat untuk menikmati panorama Sungai Martapura dan kota Banjarmasin. Selain terhalang oleh sekat-sekat besi yang berfungsi sebagai kusen, suhu yang sangat panas membuat kami tidak betah berlama-lama di ruang itu.

Dari menara, kami menuju lantai empat yang kini sudah tidak beratap. Dahulu lantai empat Menara Pandang ditutup dengan atap membran. Sayangnya atap tersebut rusak karena tergerus cuaca berangin di Banjarmasin. Hal ini menunjukkan bahwasanya perencanaan desain atap Menara Pandang kurang mempertimbangkan faktor cuaca.

Entah karena alasan apa, pada akhirnya lantai empat dibiarkan begitu saja, tanpa ada pelindung kepala baik saat terik maupun hujan tiba. Meski terkesan sepele, namun hal ini tentu dapat mengganggu kenyamanan pengunjung. Jadilah usai mengambil foto untuk keperluan dokumentasi, kami pun segera mengakhiri petualangan di puncak Menara Pandang. Saat turun, kami tidak melewatkan untuk melihat-lihat produk UKM warga Banjarmasin yang dipajang di lantai tiga.

Tersedianya ruang pamer produk UKM di ruang publik ini terbilang menarik. Selain menjadi wujud support nyata Pemerintah Kota pada pengrajin lokal, adanya pusat produk UKM juga memudahkan wisatawan Menara Pandang yang berniat membeli souvenir. Sayangnya, ruang pamer ini belum dikemas dengan menarik, baik tata ruang maupun display produknya. Pun belum ada papan informasi yang memberi tahu adanya pusat produk UKM di lantai tiga. Padahal ragam souvenir yang ditawarkan terbilang cukup lengkap.

Selepas dari Menara Pandang ada beberapa catatan terkait pembagian ruang di ikon kenamaan Banjarmasin yang satu ini. Sebagai ruang publik yang menyediakan spot belanja, alangkah lebih baik jika ruang pameran produk UKM diletakkan di lantai dua. Sebaliknya, ruang kerja yang sifatnya privat dapat dipindahkan ke lantai tiga. Selain itu akan jauh lebih menarik jika setiap jenis produk yang dijual di pusat UKM Menara Pandang diberi informasi yang memadai, baik berkaitan dengan bahan, kegunaan maupun sentra pembuatannya. Teks: Retno Septyorini / Foto: Vebrio Kusti Alamsyah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X