Lok Baintan, Riwayatmu Kini…

Jika ditanya hal apa pertama kali terpikir jika mendengar Banjarmasin, kemungkinan besar jawabannya adalah pasar terapung, yang salah satunya berada di Lok Baintan. Meski sudah banyak diekspose media, pasar terapung Lok Baintan masih menjadi daya tarik pariwisata di sekitar Banjarmasin. Belum ke Banjarmasin kalau belum sampai ke Lok Baintan. Begitu kira-kira. Padahal secara administratif Lok Baintan sendiri masuk di wilayah Kabupaten Banjar, tetangga terdekat kota Banjarmasin.

Sebagai kota yang dialiri banyak sungai, potensi wisata susur sungai menjadi salah satu prioritas kebijakan pengembangan pariwisata pemerintah kota Banjarmasin. Hal ini mengemuka saat Tim IKKON Banjarmasin menggelar diskusi dengan perwakilan pemerintah kota Banjarmasin. Berbekal inilah kami memasukkan susur sungai Lok Baintan di hari ke-3 rangkaian survai potensi.

Seperti halnya pasar tradisional lainnya, transaksi jual-beli di pasar terapung Lok Baintan dibatasi sampai pukul sembilan pagi. Berbekal informasi inilah kami berencana berangkat dari mess Kayutangi pada pukul 05.00 pagi. Sayangnya, mobil jemputan yang digadang-gadang tak kunjung datang. Baru di pukul 06.00 pagi, kami mendapat tumpangan mobil hotel dari salah satu rekan kerja kami.

Dermaga Siring menjadi titik keberangkatan kami kali ini. Sekitar pukul 07.00, klotok yang kami tumpangi mulai melaju menuju Lok Baintan. Klotok merupakan sebutan untuk perahu mesin. Umumnya klotok memiliki atap kayu yang cukup kuat. Klotok berukuran sedang dapat menampung hingga 20 penumpang. Selain klotok, Banjarmasin juga memiliki alat transportasi lain bernama jukung. Bedanya, jukung hanya mampu membawa tiga penumpang saja. Alat transportasi sederhana ini umumnya tidak dilengkapi dengan mesin, namun didayung menggunakan kayu.

Sebagai salah satu destinasi wisata favorit di Banjarmasin, biaya transportasi menuju Lok Baintan tidak bisa dibilang murah. Di hari biasa, tarif pulang-pergi menuju Lok Baintan dibanderol Rp 400.000,- per klotok atau sekitar Rp 35.000,- per orang. Jika tidak membayar secara kolektif, wisatawan harus menunggu hingga penumpang berjumlah dua puluh orang. Kalau tidak bertemu penumpang lainnya, terbayang berapa kisaran harga yang harus dibayar untuk sekedar datang ke Lok Baintan.

Sayangnya harga yang terbilang lumayan ini tidak diikuti dengan tingkat kenyamanan yang memadai. Tipikal jembatan di Banjarmasin yang rendah membuat desain klotok dibuat cukup rendah. Dampaknya bak buah simalakama. Jika penumpang memilih tinggal di dalam klotok, dipastikan mereka tidak dapat leluasa memotret atau bahkan untuk sekedar menikmati panorama alam yang ditawarkan di sepanjang jalan menuju Lok Baintan. Celakanya, saat memilih di atap kapal, nyawa jadi taruhannya.

Padahal jika diamati betul, sejam perjalanan menuju Lok Baintan menawarkan ragam pemandangan yang begitu unik. Salah satunya adalah potret rumah asli warga Banjar seperti rumah lanting ataupun rumah banjar yang berjajar di tepian kali. Sebagai kota santri, Banjarmasin juga menawarkan puluhan wisata religi mulai dari masjid beragam desain hingga makam tokoh di jamannya. Demi keselamatan, saya sendiri memilih berada di dalam klotok.

Karena berangkat cukup siang, saat dalam perjalanan menuju Lok Baintan kami bertemu rombongan kapal wisatawan dari arah yang berlawanan. Kami baru mau datang, rombongan lainnya dalam perjalanan pulang. Jadilah kami sebagai rombongan pengunjung terakhir yang datang di pasar terapung pagi ini. Karenanya saat perahu kami tiba, puluhan acil mendatangi perahu kami dari berbagai sisi.

Dalam bahasa Banjar, acil merupakan sebutan untuk bibi. Uniknya, di pasar terapung ini, semua penjualnya tak ada yang laki-laki. Bisa jadi karena hal inilah nama acil kerap diartikan sebagai bibi-bibi pedagang di pasar terapung yang berjualan di atas jukung. Layaknya pasar tradisional pada umumnya, Anda dapat menemukan aneka buah segar seperti pisang, nanas, jambu, jeruk, kasturi hingga buah kuini. Konon buah yang dijual di tempat ini merupakan hasil berkebun keluarga acil.

Selain buah-buahan, Anda juga dapat menikmati aneka jajanan tradisional hingga ragam menu sarapan khas Banjar. Putu ayu, kue kembang goyang, nasi kuning ikan gabus dan soto banjar merupakan menu pilihan yang sayang jika dilewatkan begitu saja. Jika ingin membeli buah tangan khas Banjar, Pasar Terapung Lok Baintan juga menawarkan ragam souvenir yang cukup menarik seperti miniatur jukung ataupun produk kerajinan purun seperti tas, topi ataupun tanggui dengan harga yang sangat terjangkau.

Selain dapat menikmati sensasi jajan di atas sungai, Anda juga dapat menyewa perahu acil selama beberapa saat. Selain mendayung di atas jukung, Anda juga dapat menggali berbagai informasi dari pedagang di pasar terapung ini. Sepulang dari Lok Baintan, Anda dapat mampir ke museum perjuangan warga Banjar, Museum Wasaka hingga menikmati Soto Bang Amat. Kalau mau menghemat anggaran liburan, hindari liburan sendirian. Mudahnya, ajak saja kawan-kawan yang hobi jalan-jalan. Toh di era sosial media seperti saat ini, komunitas pecinta liburan sudah banyak bermunculan. Teks: Retno Septyorini / Foto: Vebrio Kusti Alamsyah.

One thought on “Lok Baintan, Riwayatmu Kini…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X